Perbedaan Haji Maqbul, Mardud, dan Mabrur, Meskipun Sudah Melaksanakan Ibadah Haji

ARASYNEWS.COM – Tiap tahun jutaan umat Muslim di dunia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan panggilan Allah ﷻ melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi, tidak semua jema’ah itu diterima titel hajinya oleh Allah.

Ada tiga tingkatan haji yang dikenal, yakni maqbul, mardud, dan mabrur.

Ustaz Taufiqurrohman SQ dalam tausiyahnya menjelaskan haji yang maqbul adalah melaksanakan ibadah haji sekedar mengugurkan kewajiban.

“Haji maqbul, orang yang sehabis pulang dari haji, tidak ada bekasnya,” kata ustadz Taufiqurrohman SQ.

“Yang kedua, mardud, yakni hajinya ditolak. Ini karena saat momentum wukuf di Padang Arafah, ia tidak hadir di sana. Hajinya tidak sah, dan ia itu harus mengulanginya lagi,” terangnya.

“Yang ketiga, haji mabrur. Mabrur ini, sesuai janji Rasulullah dalam salah satu haditsnya, haji yang mabrur tiada balasan kecuali surga,” kata Taufiqurrohman.

Lantas, bagaimana kriteria haji mabrur itu? Panggilan untuk haji mabrur ini adalah benar-benar lurus niat karena Allah.

Taufiqurrohman SQ mengisahkan tentang Imam Ali Zainal Abidin ketika sedang berada di Makkah, di pelataran Ka’bah, lantas muridnya datang menghampiri beliau dengan penuh bahagia, dan mengatakan, “Syiar Islam luar biasa. Yang datang berhaji sangat banyak.”

Namun Imam Ali Zainal Abidin tidak menunjukkan wajah bahagia. Ia malah meneteskan air mata. Muridnya bertanya, “Kenapa guru menangis?” Ia menjawab, “Aku bersedih.” “Kenapa bersedih?’ tanya muridnya lagi. “Karena yang hampir aku lihat, Allah perlihatkan di hadapan mataku, hampir seluruh jamaah haji tersebut berkepala binatang.”

Muridnya penasaran dan bertanya, “Sebab apa, Tuan Guru?” “Pertama, mereka pergi menunaikan haji dan umrah bukan karena Allah. Kedua, mereka berangkat haji dan umrah, namun ongkos yang mereka pakai ‘spanyol’ alias separoh nyolong. Misalnya dari hasil korupsi,” jawab Imam Ali Zainal Abidin.

Karena itulah, kata Taufiqurrohman, orang yang ingin meraih titel haji mabrur, pertama-tama harus meluruskan niat haji betul-betul hanya karena Allah. Tidak ada niat lain sedikitpun dibaliknya atau berpikiran hal yang lain tentang di dunia. Kedua, sepulang dari melaksanakan ibadah haji atau umrah, bekas-bekasnya harus tampak dalam kehidupan sehari-hari.

“Makin rajin menuntut ilmu atau mengikuti pengajian. Ibadahnya makin rajin, terutama shalat fardhu berjamaah di masjid,” ujarnya.

Selain itu, terkait rezeki, betul-betul dan sungguh-sungguh hanya mencari yang halal saat berada di dunia.

Selanjutnya, dikatakan ustadz Taufiqurrohman bahwa umat muslim bersabar dan taat dalam beribadah, menjauhkan diri dari kemaksiatan, serta sabar dalam menghadapi musibah.

Dan yang terakhir, dikatakan ustadz Taufiqurrohman, bahwa umat muslim penting untuk selalu bersyukur atas apapun nikmat yang diberikan Allah kepadanya. []

You May Also Like